header-photo

GERPARI di Kawasan Minapolitan Banjarnegara

Pengembangan kawasan minapolitan berbasis perikanan budidaya telah berhasil meningkatkan perekonomian daerah dengan mengandalkan usaha budidaya perikanan. Salah satu kawasan minapolitan yang terbilang berhasil adalah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Keberhasilan ini ditandai dengan penghargaan Juara I Adibakti Mina Bahari 2015 Kategori Pengembangan Kawasan Minapolitan Perikanan Budidaya dan meraih juara I untuk kategori Unit Pembenihan Rakyat.
 
Diungkapkan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, usaha perikanan budidaya kabupaten ini telah berkontribusi meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan menyerap tenaga kerja. Produksi perikanan budidaya di Banjarnegara selama kurun waktu lima tahun terakhir cukup menggembirakan. Terjadi peningkatan produksi yang cukup signifikan yang mencapai hampir tiga kali lipat yaitu dari 5.393,25 ton pada 2010 menjadi 14.846,56 ton pada 2014 (data sementara).
 
Dijelaskan Slamet, komoditas budidaya air tawar yang menjadi unggulan di Banjarnegara antara lain ikan gurami, nila, lele, mas, dan patin. “Benih gurami dari Banjarnegara sudah tersebar ke berbagai daerah seperti Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Timur,” kata Slamet saat melakukan Kunjungan Kerja di Banjarnegara awal Maret ini.
 
Peningkatan produksi ini menjadi bukti bahwa dukungan pemerintah daerah sangat diperlukan dalam mengembangkan perikanan budidaya di wilayahnya. Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo yang turut serta dalam kunjungan tersebut mengatakan bahwa kawasan minapolitan perikanan budidaya yang ada di Banjarnegara akan terus dikembangkan.
 
Pihaknya telah membuat sentra-sentra perikanan berdasarkan komoditasnya. Ada sentra budidaya gurami di Rakit dan Bawang, sentra budidaya nila di Kecamatan Rakit dan juga Minapadi di beberapa kecamatan. Disamping itu, untuk mendukung permodalan, Pokdakan (Kelompok Pembudidaya Ikan) juga diikutkan dalam program Sertifikasi Hak Atas Tanah Budidaya Ikan (SeHATKAN).
 
Menurut Sutedjo, dari 300 bidang tanah yang telah disertifikat, 50 %-nya telah dapat digunakan untuk mendapatkan akses modal melalui KUR dan KKPE senilai hampir Rp 2,25 miliar. “Semua program pemerintah pusat yang tujuannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan kita dukung 100 %,” ungkap Sutedjo.
 
Efek Jangka Panjang
 
Kedepan, arah kebijakan pengembangan perikanan budidaya bukan hanya dimaksudkan untuk mencapai ketahanan pangan dan gizi, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan para pembudidaya dan keluarganya. Hal ini dikatakan Slamet, sesuai arahan dari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.
 
Menurut Slamet, konsep total aquaculture dengan mengaplikasikan teknologi di setiap level budidaya untuk meningkatkan hasil budidaya ikan harus segera diterapkan. Ia mencontohkan, dari total biaya produksi budidaya ikan, 70 - 80 %- nya adalah komponen biaya untuk pakan. Sisanya baru digunakan untuk benih, obat, alat, tenaga kerja, dan lain-lain. “Oleh karena itu kita punya program untuk menggunakan pakan dengan bahan baku lokal, sehingga keuntungan pembudidaya harus lebih dari 40 % dan biaya pakan harus ditekan sampai di bawah 60 %,” ujar Slamet optimis.
 
Gerakan Pakan Mandiri (GERPARI) merupakan program unggulan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mendorong produksi pakan ikan secara mandiri dengan memanfaatkan bahan baku pakan lokal. “Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mendorong pembentukan Kelompok Pakan Mandiri yang terpisah dari Pokdakan, dengan fungsi sebagai produsen pakan di sentra-sentra perikanan budidaya,” ungkap Slamet.
 
Terkait program ini, Direktur Sarana dan Prasarana DJPB KKP, Dwika Herdi-kiawan menyampaikan ada beberapa ka-wasan yang akan dijadikan percontohan dari GERPARI skala besar. “Termasuk didalamnya Banjarnegara untuk Jawa Tengah, Banda Aceh, Agam di Sumatera Barat, Kampar (Riau), Musi Banyuasin di Sumatera Selatan, Tasik, Ciamis, dan Bogor di Jawa Barat, Sleman dan Gunung Kidul di Jogjakarta, serta Tulung Agung di Jawa Timur dengan target kapasitas masing-masing daerah kurang lebih sebanyak 60 ton per unit mesin per bulan. Saat ini kita masih melakukan identifikasi dan verifikasi daerah mana saja yang berpotensi,” jelas Dwika
 
Mesin Pelet untuk Pakan Mandiri
 
Keseriusan pemerintah dalam menjalankan program GERPARI ditunjukkan dengan pemberian mesin pelet kepada Koperasi Serba Usaha Mina Rakit Sejahtera. Anggota koperasi ini adalah Pokdakan yang terdapat di wilayah Rakit, Wanadadi, Bawang, Mandiraja, Purwonegoro, dan baru saja dikukuhkan oleh Bupati Banjarnegara (12/3).
 
Slamet mengatakan, dengan mesin pelet berkapasitas 200 kg/jam diharapkan koperasi dapat mengelola dengan baik mulai dari mengupayakan bahan baku dan tiap-tiap kelompok akan memiliki peran berbeda. “Tiap kelompok harus handal dalam proses pemilihan bahan baku, pembuatan pakan, budidaya, dan lain-lain. Lebih bagus lagi ada kelompok khusus pakan, sehingga kedepannya akan makin banyak masyarakat yang tertarik budidaya,” tegas Slamet.
 
Ketua Koperasi terpilih, Karsono menyambut positif mesin pelet yang akan diberikan oleh pemerintah pusat KKP. Menurut Karsono, dari luas lahan 153 hektar yang dimiliki Banjarnegara, maka akan sangat besar potensi untuk mencari bahan baku sebagai bahan membuat pakan mandiri. “Kami sangat ingin diberi kepercayaan untuk mengelola mesin pelet ini dan menghasilkan pakan mandiri yang tentunya dapat menekan biaya produksi,” ujar Karsono. Dalam acara sarasehan dengan masyarakat pembudidaya di Kecamatan Rakit, Banjarnegara tersebut, Slamet juga melakukan sosialisasi GERPARI kepada para Kepala Dinas terkait di wilayah se-eks kerasidenan Banyumas yang meliputi Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, dan Kebumen.
 
Sementara itu, Bantuan Sosial Kemasyarakatan yang diberikan oleh KKP akhir November lalu kepada Panti Asuhan Aisyiyah Muhammadiyah Kec. Blambangan mulai dirasakan manfaatnya oleh pengurus pesantren. Pimpinan Muhammadiyah Cabang Blambangan, Arif Sudaryanto disela-sela panen parsial ikan gurami yang dilakukan Dirjen Perikanan Budidaya mengatakan, dari bantuan benih 7 kuintal dan pakan 21 kuintal ditargetkan dapat menghasilkan panen sampai 20 kuintal sekitar pertengahan April nanti. “Kami awasi terus budidayanya, karena hasilnya nanti akan kami gunakan untuk keperluan anak-anak di panti ini sekaligus melatih jiwa wirausaha mereka. Dan jika ini berhasil akan kami putar modalnya agar tidak minta bantuan terus,” ujar Arif optimis.
 
Selain panen gurami di Panti Asuhan Aisyiyah, Slamet juga memberikan pengarahan kepada siswa – siswi SMK Negeri 1 Bawang, Banjarnegara, melakukan penebaran benih lele dan patin di kolam percontohan SMK Negeri 1 Bawang dan juga di SMA Negeri 1 Banjarnegara. Menurut Slamet, dirinya menyambut gembira dengan adanya SMK yang mengkhususkan jurusan di bidang perikanan. “Ini artinya sektor perikanan terutama budidaya mulai dilirik dan menjanjikan dari sisi lapangan pekerjaan dan akan menjadikan mereka sebagai generasi bangsa penerus perikanan,” pungkasnya

 

http://www.trobos.com/detail-berita/2015/03/15/86/5786/gerpari-di-kawasan-minapolitan-banjarnegara

Herry Suhardiyanto


Rektor Institut Pertanian Bogor
Petahana
Mulai menjabat
2008
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Didahului oleh Prof. Dr. Ir. Ahmad Ansori Mattjik, M.Sc
Informasi pribadi
Lahir 10 September 1959
Banjarnegara, Jawa Tengah
Kebangsaan Indonesia
Alma mater Institut Pertanian Bogor,
Universitas Kochi,
Universitas Ehime
Pekerjaan Rektor
Profesi Ilmuwan
Agama Islam
Media sosial
Situs web http://herrysuhardiyanto.staff.ipb.ac.id/

Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc (lahir di Banjarnegara, 10 September 1959; umur 56 tahun) adalah rektor Institut Pertanian Bogor[1][2] periode 2008-2012 dan 2012-sekarang.[3][4][5][6][7][8] Ia memulai kariernya sebagai dosen di departemen Mekanisasi Pertanian (sekarang bernama Departemen Teknik Mesin dan Biosistem), Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada tahun 1981. Ia menamatkan program sarjana di Departemen Mekanisasi Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian pada tahun 1981. Ia lalu mendapatkan gelar master dari Universitas Kochi, Jepang, tahun 1991, dan gelar PhD dari Universitas Ehime, Jepang, tahun 1994.[3][4] Pernah menjabat sebagai wakil dekan Fakultas Teknologi Pertanian IPB tahun 1999-2003 dan wakil rektor IPB pada tahun 2003. Menginjak usia ke 48, ia menjadi rektor IPB ke 13.

Spesialisasi studinya adalah inovasi dan teknologi rumah tanaman dan hidroponik untuk wilayah beriklim tropis basah.[9] Berbagai risetnya telah dipublikasikan di berbagai jurnal nasional.[10][11][12] Selama memimpin IPB pada tahun 2007-2012, ia sukses membawa IPB sebagai kampus dengan hasil karya inovasi terbanyak se-Indonesia dan meraih predikat "kampus paling inovatif" dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) Republik Indonesia[4] dan menjalin kerja sama dengan berbagai negara dan perusahaan multinasional terkait pengembangan pertanian di Indonesia.[13][14][15]

Ia juga menjabat sebagai komisaris PT Perkebunan Nusantara VIII sejak tahun 2008,[16] ketua komite SNMPTN se-Indonesia pada tahun 2011,[17][18] dan ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) periode 2014-2016.[19]

Dr. Ir. Slamet Soebjakto, M.Si, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP

Jabatan Adalah Amanah dan Kerja Keras

Sabtu, 07/12/2013
Ketika jabatan dia anggap sebagai amanah, maka namanya kerja keras terasa lebih pas dilafalkan dalam satu tarikan nafas. Kecuali memancarkan sosoknya yang bersahaja, sorot matanya juga sekaligus memberitakan pribadi yang gemar bekerja. Semangat kerja keras nan membara itulah yang dia yakini mampu mengalahkan segalanya....
NERACA
Di lantai 23 sebuah gedung pencakar langit di Jakarta Selatan, sosok Slamet Soebjakto seperti terurai dalam serpihan-serpihan yang mengagumkan. Waktu dua jam terasa masih kurang mengeja pembawaannya yang humble dan sederhana. Segelas teh manis juga tak cukup membedah beragam kesibukannya sebagai pejabat eselon I yang gemar turun ke lapangan. Di kantornya tersebut, khusus kepada Neraca, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan ini berkisah banyak mengenai dirinya yang senantiasa berbalut kesibukan itu.
Slamet mengaku lahir dari keluarga sederhana. Latar belakang itulah yang sedikit banyak membentuk kepribadiannya sekarang ini. Bila agregasi media massa kerap merilis gaya hidup glamor para pejabat tinggi, sebut saja kelaziman main golf, dia malah mengaku tidak tertarik menjalaninya. Bukan karena menafikan apalagi menampik “manfaat” main golf atau semata lantaran dompet kosong, suasana batin bapak tiga anak ini agaknya memang tidak sreg dengan olah raga ala orang berduit tersebut.
Nah, barangkali, memang, keinginan Slamet untuk meninggalkan “jejak” positif dalam pengembangan perikanan budidaya di Indonesia membuat dirinya lebih semangat bekerja ketimbang main golf. “Tapi saya kira, buat orang lain (main golf) sangat menyehatkan dan bagus,” ungkapnya, masih dengan gaya tutur rendah hati. Berjalan kaki meninjau tambak dan kolam, menurut hemat Slamet, sama halnya dengan jalan-jalan yang dilakukan pada saat main golf, tapi dengan manfaat yang jauh lebih besar karena dapat mengetahui kondisi lapangan secara langsung.
Seperti menggenapi pandangannya itu, Slamet mengaku lebih memilih menggunakan uangnya untuk keperluan primer. Ia pun mengaku ingin hidup sebagaimana mestinya saja. Mungkin bahasa gamblangnya, hidup dengan tidak neko-neko. Apalagi, menurut dia, jabatan yang dia emban sekarang ini adalah amanah yang tidak akan lama, kapan saja bisa diambil. Setelah menjabat, sebut Slamet, semua orang harus siap menjadi orang biasa lagi. “Bukan hanya jabatan saja, kita pun mungkin meninggalkan dunia ini, orang-orang yang kita cintai harus kita tinggalkan,” bebernya.
Tak Cukup di Belakang Meja
Menyelesaikan kuliah S-1 dan S-2 di Institut Pertanian Bogor, peraih titel doktor bidang pesisir dan kelautan Universitas Brawijaya ini, semenjak awal karirnya sebagai pegawai negeri sipil dikenal sebagai orang teknis. Itu sebabnya, bekerja langsung di lapangan, sudah menjadi kesenangannya tersendiri. Sehingga tatkala Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mendapuk dirinya sebagai dirjen awal 2012 lalu, Slamet langsung tancap gas menggeber berbagai program dan terjun langsung ke lapangan. “Semangat mengalahkan semuanya,” ujar Slamet.
Waktu yang dia miliki seperti tumpah ruah di area tambak yang tersebar di seluruh Indonesia. Program revitalisasi tambak yang dia unggulkan mau tak mau menguras energi dan pikiran. Peningkatan produksi, baik perikanan budidaya di air tawar, air payau, maupun air laut, nyaris membuatnya berkeliling negeri dalam trafik yang sangat kencang. Acara penebaran benih, penanganan penyakit, hingga undangan panen ikan tentu saja membuatnya harus berbecek-becek di lumpur kolam, tidak peduli hari kerja atau hari libur. “Yang jelas buat saya sendiri, ke lapangan itu adalah kepuasan tersendiri,” papar mantan Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo itu.
Lebih-lebih, sambung dia, dirinya memang sedari dulu adalah orang teknis dan KKP, kementerian tempatnya mengabdi, merupakan kementerian teknis yang memang harus turun ke lapangan langsung. “Kalau saya, prinsipnya, kita bekerja ini kan bukan hanya di belakang meja saja. Apalagi kita ini se-Indonesia, harus mendengarkan langsung dari masyarakat. Dan mereka pun kalau sering didatangi juga membuat semangat dan motivasi,” kata Dirjen Slamet menjelaskan alasan lain dari kegemarannya meninjau tambak.
Energi dari 30 Menit
Lantas bagaimana Dirjen Slamet menyeimbangkan aktivitas super sibuk dengan kebutuhannya untuk rehat? Ternyata, dia punya cara sendiri. Yakni, dengan meluangkan waktu sekira 30 menit hingga 1 jam untuk, istilahnya, menenangkan diri. Waktu 30 menit itu pun tidak dipatok, bisa jam 12 tengah malam, bisa juga sebelum atau sehabis shubuh. Hal ini, tandasnya, merupakan salah satu langkah untuk menyeimbangkan antara pendakian religius dengan berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Kuasa dan kegiatannya mengembangkan perikanan budidaya di Tanah Air.
Dengan menyempatkan waktu untuk berzikir 30 menit saja, ada energi dan kesegaran luar biasa yang dirasakan Dirjen. Bahkan, setelah 30 menit berzikir, apalagi ditambah istirahat, maka dia merasa seperti telah beristirahat selama 4 atau 5 jam. Karena itu, waktu khusus berkomunikasi dengan Tuhan tersebut sedapat mungkin dia lakukan secara rutin alias istiqomah.
Hal kedua, imbuh Slamet, untuk membuatnya tetap bugar, olah raga senam dan yoga ringan dia lakukan secara ajeg. Yoga ringan, hanya sekitar 30 menit saja, biasa dia lakukan di hotel, pagi-pagi setelah shubuh. Menyempatkan waktu beryoga, selain sehat, juga menjadi upaya lain meraih ketenangan pikiran.
Pun ketika berada di kendaraan, misalnya di pesawat atau di mobil kala kunjungan kerja, dia berusaha menyempatkan diri untuk tidur, walaupun hanya 1 jam saja. Misalnya, ketika ke Bogor, setelah membaca surat-surat yang harus dia ketahui, Slamet menyempatkan tidur. Atau misalnya ke Cirebon, dia menyempatkan diri untuk recovery. Jadi, berzikir, yoga dan tidur di kendaraan, menjadi tiga perkara yang sejauh ini menjadi gaya hidupnya untuk mencapai keseimbangan. Agar tetap sehat, agar lebih tenang.
Waktu Buat Keluarga
Dirjen Slamet Soebjakto lahir di Banjarnegara, 22 Mei 1961. Menikahi Sri Cahyaningsih Herninawati, mereka dikaruniai tiga anak. Adi Bestara, Syarafina Awanis, dan M. Hibaturrahman. Kesibukan Slamet, sebagai teknisi di sektor perikanan sudah terlihat sejak 1986 sewaktu menjabat sebagai Manajer Operasional Pembenihan Udang KSO Ditjen Perikanan. Pada medio 2004-2011, kesibukannya makin bertambah ketika dirinya menjabat Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Makin sibuk lagi ketika dia menjadi Direktur Perbenihan pada Direktorat Perbenihan Ditjen Perikanan Budidaya KKP dalam kurun waktu 2011-2012. Apalagi, semenjak menjadi Direktur Jenderal Perikanan Budidaya pada awal 2012 hingga sekarang, Slamet semakin lebih sering turun ke tambak dan ke kantor ketimbang di rumah.
Kendati anak dan istrinya mafhum betul dengan kesibukan Slamet, keluarga tetap menjadi prioritasnya. Memang, keluarga, terutama istrinya yang juga PNS di Litbang Budidaya Ikan Hias di Depok, sudah akrab sejak lama dengan kesibukan sang suami karena sama-sama orang teknis. “Istri saya juga orang lapangan. Dia memahami betul, orang lapangan seperti begini. Justru di-support. Hanya dirasakan kesibukan makin terasa sekali,” cerita Slamet.
Dirjen Slamet pun punya trik untuk berkumpul bersama keluarga. Dia punya target untuk menyediakan waktu khusus untuk keluarga. Katakanlah, Sabtu-Minggu di pekan ini hilang karena harus memenuhi undangan stakeholder atau mendampingi kunjungan kerja menteri, dia targetkan minggu depannya lagi dia harus di rumah. Nah, pas punya waktu bersama keluarganya itulah, dia melakukan kegiatan bareng di luar rutinitas pekerjaan. Misalnya, pergi ke Taman Mini Indonesia Indah, hanya sekadar untuk naik kereta gantung bareng istri dan anaknya.
Itulah sekelumit tentang Dirjen Perikanan Budidaya KKP. Apapun itu, Slamet adalah ujung tombak kementerian untuk mengurusi perikanan budidaya di seluruh Indonesia. Kerja kerasnya, tentu saja bukan tanpa tujuan. Kegiatannya yang tak jarang bermandi keringat di tengah lumpur tambak seperti ingin dia persembahkan untuk kemajuan perikanan budidaya. Juga, yang tak kalah penting, Slamet mengaku ingin menjalankan tanggung jawab yang diberikan semaksimal mungkin. Sehingga pada gilirannya, harap Slamet, jabatan yang dia emban tersebut mampu memberikan kesan dan peninggalan yang bagus untuk generasi setelahnya. (ahm/munib)

Wow, Kab. Banjarnegara Didapuk Jadi Sentra Perikanan Budidaya Berbasis Minapolitan!

Produksi perikanan budidaya di Banjarnegara dalam 5 tahun terakhir cukup menggembirakan

16 Maret 2015 11:04 WIB


Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto (tengah) berkunjung ke sentra budidaya Gurame di Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah


BANJARNEGARA, JITUNEWS.COM - Pengembangan sentra perikanan budidaya melalui pengembangan kawasan minapolitan berbasis perikanan budidaya telah berhasil meningkatkan perekonomian daerah dengan mengandalkan usaha budidaya perikanan. Salah satu kawasan minapolitan yang menonjol dan berhasil meraih penghargaan Juara I Adibakti Mina Bahari 2015 Kategori Pengembangan Kawasan Minapolitan Perikanan Budidaya adalah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, komoditas budidaya air tawar yang menjadi unggulan di Banjarnegara seperti Gurame, Nila, Lele, Mas dan Patin telah berkontribusi meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan menyerap tenaga kerja. Bahkan Benih Gurame dari Banjarnegara sudah digunakan di daerah lain untuk dibudidayakan seperti Lampung, Jawa Barat dan juga Jawa Timur.
Lebih jauh Slamet mengatakan bahwa produksi perikanan budidaya di Kabupaten Banjarnegara selama kurun waktu lima tahun terakhir cukup menggembirakan.

“Terjadi peningkatan produksi yang cukup signifikan yang mencapai hampir tiga kali lipat, yaitu dari 5.393,25 ton pada tahun 2010 menjadi 14.846,56 ton pada 2014 (data sementara). Ini juga sebagai bukti bahwa dukungan pemerintah daerah sangat diperlukan dalam mengembangkan perikanan budidaya di wilayahnya. Melalui pengembangan kawasan MInapolitan di Kab. Banjarnegara, perikanan budidaya dapat diandalkan untuk mengembangkan perekonomian daerah”, kata Slamet. Ia juga menambahkan bahwa sesuai arahan Menteri KP, perikanan budidaya jangan hanya sebagai pendukung ketahanan pangan dan gizi tetapi juga sebagai sumber pendapatan atau bisnis
Untuk meningkatkan margin usaha budidaya perikanan, khususnya untuk pembudidaya komoditas air tawar seperti di Banjarnegara, salah satunya dengan menekan biaya produksi dari pakan. Slamet menambahkan, bahwa saat ini perikanan budidaya harus menuju ke arah yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan. Kemandirian akan terus didorong untuk terus mendukung ketahanan pangan menuju kedaulatan pangan.
“Sesuai arahan Ibu Susi, bahwa kemandirian ini akan mendorong peningkatan kesejahteraan pembudidaya. Karena kita di tuntut untuk swasembada baik dari segi benih, induk maupun produk perikanan budidaya. Yang pada akhirnya akan mendorong perekonomian daerah dan juga secara tidak langsung meningkatkan kesejahteraan pembudidaya”, terang Slamet.
Produk perikanan budidaya juga diharapkan mampu bersaing dengan produk asing karena adanya pasar regional ASEAN. Disamping itu semua, usaha perikanan budidaya diharapkan harus memperhatikan lingkungan sekitarnya sehingga mampu di usahakan secara terus menerus. (djpb-kkp)

Banjarnegara Sentra Perikanan Budidaya Nasional

Banjarnegara Sentra Perikanan Budidaya Nasional




Sen, 16/03/2015 - 09:43
 
 
 

BANJARNEGARA – Kabupaten Banjarnegara saat ini telah menjadi salah satu sentra perikanan budidaya. Untuk itu, pembangunan perekonomian di kabupaten ini merupakan bagian dari keberhasilan pengembangan kawasan minapolitan dan perikanan budidaya.
Seperti halnya komoditas budidaya air tawar yang menjadi unggulan di Banjarnegara seperti Gurame, Nila, Lele, Mas dan Patin telah berkontribusi meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan menyerap tenaga kerja.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto saat melakukan Kunjungan Kerja di SMK 1 Bawang Banjarnegara belum lama ini.
Menurutnya, pengembangan sentra perikanan budidaya melalui  pengembangan kawasan minapolitan berbasis perikanan budidaya telah berhasil meningkatkan perekonomian daerah dengan mengandalkan usaha budidaya perikanan.
“Salah satu kawasan minapolitan yang menonjol dan berhasil meraih penghargaan Juara I Adibakti Mina Bahari 2015 Kategori Pengembangan Kawasan Minapolitan Perikanan Budidaya adalah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Bahkan Benih Gurame dari Banjarnegara sudah digunakan di daerah lain untuk dibudidayakan seperti Lampung, Jawa Barat dan juga Jawa Timur,” kata Slamet.
Lebih jauh Slamet mengatakan bahwa produksi perikanan budidaya Banjarnegara selama kurun waktu lima tahun terakhir cukup menggembirakan. “Berdasarkan data sementara terjadi peningkatan produksi yang cukup signifikan yang mencapai hampir tiga kali lipat, yaitu dari 5.393,25 ton pada tahun 2010 menjadi 14.846,56 ton pada 2014,” lanjutnya.
Peningkatan produksi lanjut Slamet juga merupakan bukti bahwa dukungan pemerintah daerah sangat diperlukan dalam mengembangkan perikanan budidaya di wilayahnya. Melalui pengembangan kawasan Minapolitan di Banjarnegara, perikanan budidaya dapat diandalkan untuk mengembangkan perekonomian daerah.
Di tempat yang sama, Bupati Banjarnegara, Tedjo Utomo, mengatakan, Kawasan MInapolitan Perikanan Budidaya yang ada di Kabupaten Banjarnegara akan terus di kembangkan. “Kita telah buat sentra-sentra perikanan berdasarkan komoditasnya,” kata Sutedjo.
Sutedjo menambahkan saat ini ada sentra Budidaya Gurame berada di wilayah Rajapurbawa yaitu Rakit, Mandiraja, Purwanegara, Bawang dan Wanadadi.
Sedangkan untuk mendukung permodalan, POKDAKAN juga diikutkan dalam program Sertifikasi Hak Atas Tanah Budidaya Ikan (SeHATKAN) dan dari 300 bidang tanah yang telah di sertifikat, 50 persenya telah dapat digunakan untuk mendapatkan akses modal melalui KUR dan KKE P senilai hampir Rp. 2,25 milyar. Semua program pemerintah pusat yang tujuannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan kita dukung 100 persen,” jelas Tedjo.
Pada kunjungan kerja ini, Dirjen Perikanan Budidaya melakukan beberapa kegiatan diantaranya pengarahan kepada siswa-siswi SMK Negeri 1 Bawang, Banjarnegara, penebaran benih lele dan patin di kolam percontohan SMK Negeri 1 Bawang dan SMA Negeri 1 Banjarnegara, panen gurame di kolam percontohan Panti Asuhan Yatim Aisyah, Blambangan dan Acara Pengukuhan Koperasi Serba Usaha (KSU) “Mina Rakit Sejahtera” sekaligus Sarasehan dengan masyarakat pembudidaya di Kecamatan  Rakit. (**anhar)

Banjarnegara Jadi Contoh Sukses Program Minapolitan

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan menilai Banjarnegara, Jawa Tengah merupakan salah satu bukti keberhasilan pengembangan kawasan minapolitan berbasis perikanan budidaya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan dengan pengembangan kawasan minapolitan ini, Banjarnegara telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan perekonomian daerahnya.

"Komoditas budidaya air tawar yang menjadi unggulan di Banjarnegara seperti gurame, nila, lele, mas, dan patin telah berkontribusi meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan menyerap tenaga kerja," katanya dalam rilis yang diterima Bisnis.com, Kamis (12/3/2015).

Dia menyebutkan benih gurame dari Banjarnegara sudah digunakan di daerah lain untuk dibudidayakan seperti Lampung, Jawa Barat dan Jawa Timur.

Slamet mengatakan produksi perikanan budidaya di Banjarnegara mengalami peningkatan hampir tiga kali lipat. Pada 2010, produksinya sebesar 5.393,25 ton, sedangkan pada 2014 sebesar 14.846,56 ton.

BANJARNEGARA MENUJU KAWASAN MINAPOLITAN PERIKANAN BUDIDAYA YANG MANDIRI, BERDAYA SAING DAN BERKELANJUTAN


BANJARNEGARA MENUJU KAWASAN MINAPOLITAN PERIKANAN BUDIDAYA YANG MANDIRI, BERDAYA SAING DAN BERKELANJUTAN

Pengembangan sentra perikanan budidaya melalui pengembangan kawasan minapolitan berbasis perikanan budidaya telah berhasil meningkatkan perekonomian daerah dengan mengandalkan usaha budidaya perikanan. Salah satu kawasan minapolitan yang menonjol dan berhasil meraih penghargaan Juara I Adibakti Mina Bahari 2015 Kategori Pengembangan Kawasan Minapolitan Perikanan Budidaya adalah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. “Banjarnegara saat ini telah menjadi salah satu sentra perikanan budidaya melalui keberhasilan pengembangan kawasan minapolitan dan perikanan budidaya telah menjadi bagian dari pembangunan perekonomian di Kab. Banjarnegara. Komoditas budidaya air tawar yang menjadi unggulan di Banjarnegara seperti Gurame, Nila, Lele, Mas dan Patin telah berkontribusi meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan menyerap tenaga kerja. Bahkan Benih Gurame dari Banjarnegara sudah digunakan di daerah lain untuk dibudidayakan seperti Lampung, Jawa Barat dan juga Jawa Timur”, demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada saat melakukan Kunjungan Kerja di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Lebih jauh Slamet mengatakan bahwa produksi perikanan budidaya di Kabupaten Banjarnegara selama kurun waktu lima tahun terakhir cukup menggembirakan. “Terjadi peningkatan produksi yang cukup signifikan yang mencapai hampir tiga kali lipat, yaitu dari 5.393,25 ton pada tahun 2010 menjadi 14.846,56 ton pada 2014 (data sementara). Ini juga sebagai bukti bahwa dukungan pemerintah daerah sangat diperlukan dalam mengembangkan perikanan budidaya di wilayahnya. Melalui pengembangan kawasan MInapolitan di Kab. Banjarnegara, perikanan budidaya dapat diandalkan untuk mengembangkan perekonomian daerah”, kata Slamet

Slamet juga menambahkan bahwa sesuai arahan Menteri KP, perikanan budidaya jangan hanya sebagai pendukung ketahanan pangan dan gizi tetapi juga sebagai sumber pendapatan atau bisnis.”Pembudidaya harus di dorong untuk meningkatkan levelnya menjadi pengusaha paling tidak pengusaha UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Dengan menjadi pengusaha, maka pembudidaya dapat mengeluarkan biaya tenaga kerja yang selama ini tidak di hitung, mengembalikan biaya modal yang di keluarkan bahkan bisa melakukan investasi untuk mengembangkan usahanya”, tambah Slamet

Untuk meningkatkan margin usaha budidaya perikanan, khususnya untuk pembudidaya komoditas air tawar seperti di Banjarnegara, salah satunya dengan menekan biaya produksi dari pakan. “Gerakan Pakan Mandiri (GERPARI) merupakan kebijakan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mendorong produksi pakan ikan secara mandiri dengan memanfaatkan bahan baku pakan local.Melalui GERPARI juga di buka peluang kerja sebagai produsen pakan, dimana di dalamnya terdapat segmen usaha yang dapat menyerap tenaga kerja seperti penyediaan bahan baku pakan, proses produksi pakan, penyimpanan bahan baku dan pakan dan juga pemasaran. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mendorong pembentukan Kelompok Pakan Mandiri yang terpisah dari Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) dengan tugas sebagai produsen pakan di sentra-sentra perikanan budidaya”, ungkap Slamet.

Mandiri, Berdaya Saing dan Berkelanjutan
Slamet menambahkan, bahwa saat ini perikanan budidaya harus menuju ke arah yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan. “Kita harus bisa mandiri tidak tergantung dari orang lain, dalam menghasilkan produk perikanan budidaya yang berkualitas sehingga mampu bersaing di dalam negeri maupun pasar ekspor dan juga tetap memperhatikan lingkungan atau ramah lingkungan”, jelas Slamet.
Kemandirian akan terus didorong untuk terus mendukung ketahanan pangan menuju kedaulatan pangan. “Sesuai arahan Ibu Susi, bahwa kemandirian ini akan mendorong peningkatan kesejahteraan pembudidaya. Karena kita di tuntut untuk swasembada baik dari segi benih, induk maupun produk perikanan budidaya. Yang pada akhirnya akan mendorong perekonomian daerah dan juga secara tidak langsung meningkatkan kesejahteraan pembudidaya”, terang Slamet.
Produk perikanan budidaya juga di harapkan mampu bersaing dengan produk asing karena adanya pasar regional ASEAN. “Persaingan di pasar regional ini harus kita jadikan sebagai pendorong dalam meningkatkan kualitas produk kita. Dengan meningkatkan efisiensi budidaya dan penerapan cara budidaya ikan yang baik (CBIB), kita harus mampu memenangkan persaingan ini dengan segala kelebihan yang kita miliki’, kata Slamet.
Disamping itu semua, usaha perikanan budidaya diharapkan harus memperhatikan lingkungan sekitarnya sehingga mampu di usahakan secara terus menerus. “Lingkungan di sekitar usaha budidaya juga harus kita jaga, jangan sampai rusak. Kita bisa menjaganya dengan selalu melakukan pengolahan limbah sebelum air di buang ke perairan sekitar, tidak menggunakan obat-obatan maupun bahan kimia dan selalu menjaga kelestarian lingkungan. Ini semua arahnya adalah keberlanjutan bagi usaha perikanan budidaya sendiri juga lingkungan sekitarnya”, pungkas Slamet
Di tempat yang sama, Bupati Banjarnegara, Tedjo Utomo, mengatakan bahwa Kawasan MInapolitan Perikanan Budidaya yang ada di Kabupaten Banjarnegara akan terus di kembangkan. “Kita telah buat sentra-sentra perikanan berdasarkan komoditasnya. Ada sentra Budidaya Gurame di Rakit dan Bawang, Sentra Budidaya Nila di Kec. Rakit dan juga Minapadi di beberapa kecamatan. Disamping itu, untuk mendukung permodalan, POKDAKAN juga diikutkan dalam program Sertifikasi Hak Atas Tanah Budidaya Ikan (SeHATKAN) dan dari 300 bidang tanah yang telah di sertifikat, 50% nya telah dapat digunakan untuk mendapatkan akses modak melalu KUR dan KKE P senilai hampir Rp. 2,25 milyar. Semua program pemerintah pusat yang tujuannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan kita dukung 100 %”, jelas Tedjo
Pada kunjungan kerja ini, Dirjen Perikanan Budidaya melakukan beberapa kegiatan diantaranya pengarahan kepada siswa – siswi SMK Negeri 1 Bawang, Banjarnegara, penebaran benih lele dan patin di kolam percontohan SMK Negeri 1 Bawang dan SMA Negeri 1 Banjarnegara, panen gurame di kolam percontohan Panti Asuhan Yatim Aisyah, Blambangan dan Acara Pengukuhan Koperasi Serba Usaha (KSU) “Mina Rakit Sejahtera” sekaligus Sarasehan dengan masyarakat pembudidaya di Kec. Rakit, Kab. Banjarnegara.

Sumber: http://bpblambon-kkp.org/banjarnegara-menuju-kawasan-minapolitan-perikanan-budidaya-yang-mandiri-berdaya-saing-dan-berkelanjutan/  www.djpbkkp.go.id

PERIKANAN : Harmoni Wisata dan Perikanan di Danau Toba


Pemerintah berencana menjadikan Danau Toba sebagai destinasi wisata unggulan. Di sisi lain, danau terbesar di Indonesia ini juga tempat berproduksi nila, komoditas ekspor perikanan. Bagaimana jalan tengahnya?
Danau Toba di Sumatera Utara terhampar di tujuh kabupaten, yaitu Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Samosir, Karo, Dairi, dan Humbang Hasundutan.  Di samping kondang sebagai tempat wisata yang memukau dengan pemandangan alamnya, perairan danau itu juga dimanfaatkan perusahaan dan pembudidaya ikan untuk memproduksi nila (tilapia).
Pemerintah memberi lampu hijau untuk memaksimalkan pengelolaan Danau Toba. Sesuai Perpres 81/2014, usaha Keramba Jaring Apung (KJA) diperbolehkan di outlet perairan danau di Kabupaten Toba Samosir. Sedangkan di kabupaten lain yang sudah berkembang usaha KJA harus dilakukan pengendalian KJA. Usaha KJA masyarakat dilarang di area pesisir danau sampai kedalaman 30 m, di atas kedalaman itu dikendalikan. Untuk KJA perusahaan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengusulkan dibatasi di perairan dengan kedalaman lebih dari 100 m dan tidak boleh mencemari lingkungan.
Saat ini jumlah KJA di Danau Toba, menurut data KKP,  berkisar 23 ribu unit, dan ada sekitar 7.000 unit di antaranya akan diangkat. Menurunkan atau mengurangi unit KJA tentunya akan berimbas berkurangnya produksi ikan di sana. Sesuai rekomendasi Badan Litbang KKP, daya dukung perairan Danau Toba sekitar 50 ribu ton ikan per tahun. Sedangkan produksi usaha KJA pada 2015 sekitar 90 ribu ton. Itu artinya, produksi harus dikurangi 40 ribu ton per tahun. Bila harga nila di tingkat pembudidaya Rp23.500/kg, maka jumlah pendapatan masyarakat pembudidaya ikan KJA yang akan hilang berkisar Rp940 miliar per tahun. Ini jelas kehilangan yang sangat signifikan dan mempengaruhi hajat hidup banyak masyarakat.
Selain pembudidaya rakyat, di Danau Toba juga beroperasi dua perusahaan dan eksportir nila, yakni PT Aquafarm Nusantara dari Swiss yang lebih dulu datang  ke Toba dan PT Suri Tani Pemuka (STP), anak usaha Japfa dari Indonesia. Kedua perusahaan terintegrasi tersebut mengekspor fillet nila ke pasar Amerika Serikat.
Berdasarkan data dari National Marine Fisheries Service, impor komoditas filet nila beku mengalami peningkatan yang signifikan mulai 2002 hingga 2016. Indonesia pemasok nila terbesar kedua di AS setelah Tiongkok. Tapi dalam bentuk fillet beku, tonase Indonesia mengungguli Tongkok dan kualitasnya termasuk premium. Di pasar AS itu, STP mengorbitkan brand Toba Tilapia untuk produk fillet bekunya. Di dalam negeri fillet ini sudah digunakan oleh salah satu jaringan restoran cepat saji terbesar di dunia untuk menggantikan produk impor.
Memenuhi Standar Nasional dan Internasional
Belakangan budidaya ikan di KJA Danau Toba menjadi sorotan setelah terbit Perpres 49 Tahun 2016 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba. Terbitnya Perpres tersebut bisa berdampak pada keberadaan usaha budidaya ikan menggunakan KJA yang sudah banyak tumbuh di sana.
Melalui Rachmat Indrajaya, Director External Relation Japfa, STP menyatakan menyambut baik rencana pemerintah menjadikan Danau Toba destinasi wisata unggulan dan berharap pembangunan infrastruktur di sana akan semakin baik. Demikian pula upaya-upaya terhadap kelestarian lingkungan hidup semakin meningkat. Perusahaan ini meyakini, budidaya perikanan yang ramah lingkungan akan dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan pariwisata Danau Toba, dan STP siap untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung keberhasilan program pariwisata pemerintah.

Sumber: AGRINA

Menyibak Perikanan di Negeri Dieng


Menekan urbanisasi, usaha perikanan dibangun melalui generasi muda.
Melimpah dengan sumber air membuat wilayah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, subur untuk kegiatan agribisnis perikanan. Perputaran uang dari sektor perikanan ini mencapai Rp700 miliar setahun.
Dialiri Sungai Serayu, Merawu, Pekancangan, Berukah, dan Sakti, dengan irigasi teknis yang tidak pernah putus saat musim kemarau, membuat usaha perikanan sangat bergairah. Di wilayah yang terkenal dengan wisata dataran tinggi Dieng tersebut terdapat sekitar 430 ha kolam budidaya ikan, 23 ha keramba jaring apung (KJA), dan 75 ha lahan minapadi yang dikelola. Aktivitas ekonomi itu dikelola 20 ribu rumah tangga pembudidaya dari sekitar satu juta rumah tangga di Banjarnegara. Produksi perikanan budidaya mencapai sekitar 10 ribu ton pada 2013. Tahun ini produksi perikanan diharapkan mencapai 13 ribu ton.  
Raja Purbawa
Menurut Sutedjo Slamet Utomo, Bupati Bajarnegara, terdapat sentra budidaya ikan yang terkenal dengan nama Raja Purbawa, akronim dari lima Kecamatan Rakit, Mandiraja, Purwanegara, Bawang, dan Wanadadi. Komoditas perikanan yang marak dibudidayakan adalah gurami, nila, nilem, patin, mas, bawal, lele, dan tawes. “Produk unggulan kita adalah gurami dan nila,” ujar Tomo, sapaannya, saat menerima kehadiran media pada acara Press Tour Ditjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (22/2).   
Ikan yang dibudidaya mulai dari telur, benih, hingga ukuran konsumsi. Pada 2013, produksi ikan konsumsi mencapai hampir 10 ribu ton. Rinciannya, ikan mas sebesar 481 ton, patin 233 ton, lele 2.228 ton, nila 2.247 ton, gurami 2.937 ton, dan ikan lainnya seperti bawal, nilem, tawes mencapai 1.859 ton. Sementara, imbuh Totok Setya Winarna, Kepala Bidang Perikanan, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Peternakan Kab. Banjarnegara, produksi benih ikan mencapai 961 juta ekor/tahun.
Produksi utama perikanan Banjarnegara memang berupa benih. Nilai perputaran uang dari usaha pembenihan ikan sebanyak Rp500 miliar/tahun, sedangkan dari pembesaran ikan sekitar Rp200 milar/tahun. Benih ikan tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga ke wilayah lain di Jateng, Jatim, Sumatera, dan Kalimantan. Sedangkan gurami ukuran konsumsi dipasarkan ke Jakarta, Bandung, dan Semarang.
Selain ikan konsumsi, pembudidaya di Banjarnegara menghasilkan ikan hias membidik pasar ke Jakarta, Bandung dan Tasikmalaya. ”Ada kawasan pengembangan ikan hias di Kec. Kali Bening dan Kec. Bawang, jenisnya koi, komet, dan plati,” urai Tomo.
Untuk pembangunan perikanan budidaya, pemda Banjarnegara mengucurkan dana sebesar Rp1,3 miliar pada 2014. “Kita akan gunakan anggaran 60% untuk kawasan minapolitan, 40% untuk interland. Interland itu penyangga dari 14 kecamatan,” Totok menambahkan. Pembangunan dilakukan secara fisik berupa pembuatan irigasi untuk memperlancar pasokan air ke kolam budidaya, dan nonfisik berupa pelatihan cara pembenihan dan budidaya ikan yang baik.
Generasi Muda
Generasi muda, diakui Tomo, sangat berperan dalam pembangunan industri perikanan pada masa mendatang. Sebab itu, sambung dia, agar generasi muda mau menggeluti sektor perikanan, dibukalah jurusan perikanan di SMK Negeri 1 Bawang. “Siswa berwirausaha di lingkungan sekolah, mereka bisa langsung praktik dan mencetak uang,” cetusnya.
Antusiasme siswa terhadap sektor perikanan juga cukup tinggi. Saat dibangun pada 2012, jumlah siswa yang terdaftar mencapai 30 orang. “Dua tahun terakhir ini naik signifikan, tahun kedua ini sudah 60 siswa,” papar bupati yang menggaungkan slogan “Mawar Biru” alias Mangan Wareg, Bisa Turu (makan kenyang, bisa tidur).
Guna mendukung wirausaha muda tersebut, Tomo mencanangkan program Gemarikan atau gerakan memasyarakatkan makan ikan. Pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei, mendatang pemerintah dan masyarakat dianjurkan membeli produk perikanan yang dihasilkan para siswa SMK. “Anak-anak (SMK) budidaya ikan lele yang dipanen bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional,” imbuh pria kelahiran Banjarnegara, 14 Februari 1945 ini.       
Selain itu, pemerintah Banjarnegara juga memperkenalkan sistem terpalisasi kepada warga desa, yaitu usaha budidaya perikanan menggunakan terpal berukuran 2 m x 3 m. Totok menggambarkan, pembudidaya akan memperoleh keuntungan bersih sebesar Rp200 ribu/bulan dengan membenihkan lele di kolam terpal. “Dan di Banjarnegara sudah berkembang puluhan ribu terpal. Sasaran kita kepada anak-anak muda sehingga tidak terjadi urbanisasi. Sasaran generasi muda adalah terpalisasi, usaha pemula dan yang sudah maju dengan kolam permanen,” sambungnya.
Selain itu, pembudidaya pemula juga akan diperkenalkan teknologi pembesaran ikan yang lebih mudah dibandingkan pembenihan ikan. “Jangan sampai pembudidaya gagal, nggak mau coba lagi. Kami harap, mereka mencoba, dan bersemangat,” papar Bupati. Semoga!
Windi Listianingsih
01 April 2014
Sumber: Agrina