Jabatan Adalah Amanah dan Kerja Keras
Sabtu, 07/12/2013
Ketika jabatan dia anggap sebagai amanah, maka namanya kerja
keras terasa lebih pas dilafalkan dalam satu tarikan nafas. Kecuali
memancarkan sosoknya yang bersahaja, sorot matanya juga sekaligus
memberitakan pribadi yang gemar bekerja. Semangat kerja keras nan
membara itulah yang dia yakini mampu mengalahkan segalanya....
NERACA
Di lantai 23 sebuah gedung pencakar langit di Jakarta Selatan, sosok
Slamet Soebjakto seperti terurai dalam serpihan-serpihan yang
mengagumkan. Waktu dua jam terasa masih kurang mengeja pembawaannya yang
humble dan sederhana. Segelas teh manis juga tak cukup membedah beragam
kesibukannya sebagai pejabat eselon I yang gemar turun ke lapangan. Di
kantornya tersebut, khusus kepada Neraca, Direktur Jenderal Perikanan
Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan ini berkisah banyak mengenai
dirinya yang senantiasa berbalut kesibukan itu.
Slamet mengaku lahir dari keluarga sederhana. Latar belakang itulah
yang sedikit banyak membentuk kepribadiannya sekarang ini. Bila agregasi
media massa kerap merilis gaya hidup glamor para pejabat tinggi, sebut
saja kelaziman main golf, dia malah mengaku tidak tertarik menjalaninya.
Bukan karena menafikan apalagi menampik “manfaat” main golf atau semata
lantaran dompet kosong, suasana batin bapak tiga anak ini agaknya
memang tidak sreg dengan olah raga ala orang berduit tersebut.
Nah, barangkali, memang, keinginan Slamet untuk meninggalkan “jejak”
positif dalam pengembangan perikanan budidaya di Indonesia membuat
dirinya lebih semangat bekerja ketimbang main golf. “Tapi saya kira,
buat orang lain (main golf) sangat menyehatkan dan bagus,” ungkapnya,
masih dengan gaya tutur rendah hati. Berjalan kaki meninjau tambak dan
kolam, menurut hemat Slamet, sama halnya dengan jalan-jalan yang
dilakukan pada saat main golf, tapi dengan manfaat yang jauh lebih besar
karena dapat mengetahui kondisi lapangan secara langsung.
Seperti menggenapi pandangannya itu, Slamet mengaku lebih memilih
menggunakan uangnya untuk keperluan primer. Ia pun mengaku ingin hidup
sebagaimana mestinya saja. Mungkin bahasa gamblangnya, hidup dengan
tidak neko-neko. Apalagi, menurut dia, jabatan yang dia emban sekarang
ini adalah amanah yang tidak akan lama, kapan saja bisa diambil. Setelah
menjabat, sebut Slamet, semua orang harus siap menjadi orang biasa
lagi. “Bukan hanya jabatan saja, kita pun mungkin meninggalkan dunia
ini, orang-orang yang kita cintai harus kita tinggalkan,” bebernya.
Tak Cukup di Belakang Meja
Menyelesaikan kuliah S-1 dan S-2 di Institut Pertanian Bogor, peraih
titel doktor bidang pesisir dan kelautan Universitas Brawijaya ini,
semenjak awal karirnya sebagai pegawai negeri sipil dikenal sebagai
orang teknis. Itu sebabnya, bekerja langsung di lapangan, sudah menjadi
kesenangannya tersendiri. Sehingga tatkala Menteri Kelautan dan
Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mendapuk dirinya sebagai dirjen awal
2012 lalu, Slamet langsung tancap gas menggeber berbagai program dan
terjun langsung ke lapangan. “Semangat mengalahkan semuanya,” ujar
Slamet.
Waktu yang dia miliki seperti tumpah ruah di area tambak yang
tersebar di seluruh Indonesia. Program revitalisasi tambak yang dia
unggulkan mau tak mau menguras energi dan pikiran. Peningkatan produksi,
baik perikanan budidaya di air tawar, air payau, maupun air laut,
nyaris membuatnya berkeliling negeri dalam trafik yang sangat kencang.
Acara penebaran benih, penanganan penyakit, hingga undangan panen ikan
tentu saja membuatnya harus berbecek-becek di lumpur kolam, tidak peduli
hari kerja atau hari libur. “Yang jelas buat saya sendiri, ke lapangan
itu adalah kepuasan tersendiri,” papar mantan Kepala Balai Budidaya Air
Payau Situbondo itu.
Lebih-lebih, sambung dia, dirinya memang sedari dulu adalah orang
teknis dan KKP, kementerian tempatnya mengabdi, merupakan kementerian
teknis yang memang harus turun ke lapangan langsung. “Kalau saya,
prinsipnya, kita bekerja ini kan bukan hanya di belakang meja saja.
Apalagi kita ini se-Indonesia, harus mendengarkan langsung dari
masyarakat. Dan mereka pun kalau sering didatangi juga membuat semangat
dan motivasi,” kata Dirjen Slamet menjelaskan alasan lain dari
kegemarannya meninjau tambak.
Energi dari 30 Menit
Lantas bagaimana Dirjen Slamet menyeimbangkan aktivitas super sibuk
dengan kebutuhannya untuk rehat? Ternyata, dia punya cara sendiri.
Yakni, dengan meluangkan waktu sekira 30 menit hingga 1 jam untuk,
istilahnya, menenangkan diri. Waktu 30 menit itu pun tidak dipatok, bisa
jam 12 tengah malam, bisa juga sebelum atau sehabis shubuh. Hal ini,
tandasnya, merupakan salah satu langkah untuk menyeimbangkan antara
pendakian religius dengan berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Kuasa dan
kegiatannya mengembangkan perikanan budidaya di Tanah Air.
Dengan menyempatkan waktu untuk berzikir 30 menit saja, ada energi
dan kesegaran luar biasa yang dirasakan Dirjen. Bahkan, setelah 30 menit
berzikir, apalagi ditambah istirahat, maka dia merasa seperti telah
beristirahat selama 4 atau 5 jam. Karena itu, waktu khusus berkomunikasi
dengan Tuhan tersebut sedapat mungkin dia lakukan secara rutin alias
istiqomah.
Hal kedua, imbuh Slamet, untuk membuatnya tetap bugar, olah raga
senam dan yoga ringan dia lakukan secara ajeg. Yoga ringan, hanya
sekitar 30 menit saja, biasa dia lakukan di hotel, pagi-pagi setelah
shubuh. Menyempatkan waktu beryoga, selain sehat, juga menjadi upaya
lain meraih ketenangan pikiran.
Pun ketika berada di kendaraan, misalnya di pesawat atau di mobil
kala kunjungan kerja, dia berusaha menyempatkan diri untuk tidur,
walaupun hanya 1 jam saja. Misalnya, ketika ke Bogor, setelah membaca
surat-surat yang harus dia ketahui, Slamet menyempatkan tidur. Atau
misalnya ke Cirebon, dia menyempatkan diri untuk recovery. Jadi,
berzikir, yoga dan tidur di kendaraan, menjadi tiga perkara yang sejauh
ini menjadi gaya hidupnya untuk mencapai keseimbangan. Agar tetap sehat,
agar lebih tenang.
Waktu Buat Keluarga
Dirjen Slamet Soebjakto lahir di Banjarnegara, 22 Mei 1961. Menikahi
Sri Cahyaningsih Herninawati, mereka dikaruniai tiga anak. Adi Bestara,
Syarafina Awanis, dan M. Hibaturrahman. Kesibukan Slamet, sebagai
teknisi di sektor perikanan sudah terlihat sejak 1986 sewaktu menjabat
sebagai Manajer Operasional Pembenihan Udang KSO Ditjen Perikanan. Pada
medio 2004-2011, kesibukannya makin bertambah ketika dirinya menjabat
Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Makin sibuk lagi ketika dia
menjadi Direktur Perbenihan pada Direktorat Perbenihan Ditjen Perikanan
Budidaya KKP dalam kurun waktu 2011-2012. Apalagi, semenjak menjadi
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya pada awal 2012 hingga sekarang,
Slamet semakin lebih sering turun ke tambak dan ke kantor ketimbang di
rumah.
Kendati anak dan istrinya mafhum betul dengan kesibukan Slamet,
keluarga tetap menjadi prioritasnya. Memang, keluarga, terutama istrinya
yang juga PNS di Litbang Budidaya Ikan Hias di Depok, sudah akrab sejak
lama dengan kesibukan sang suami karena sama-sama orang teknis. “Istri
saya juga orang lapangan. Dia memahami betul, orang lapangan seperti
begini. Justru di-support. Hanya dirasakan kesibukan makin terasa
sekali,” cerita Slamet.
Dirjen Slamet pun punya trik untuk berkumpul bersama keluarga. Dia
punya target untuk menyediakan waktu khusus untuk keluarga. Katakanlah,
Sabtu-Minggu di pekan ini hilang karena harus memenuhi undangan
stakeholder atau mendampingi kunjungan kerja menteri, dia targetkan
minggu depannya lagi dia harus di rumah. Nah, pas punya waktu bersama
keluarganya itulah, dia melakukan kegiatan bareng di luar rutinitas
pekerjaan. Misalnya, pergi ke Taman Mini Indonesia Indah, hanya sekadar
untuk naik kereta gantung bareng istri dan anaknya.
Itulah sekelumit tentang Dirjen Perikanan Budidaya KKP. Apapun itu,
Slamet adalah ujung tombak kementerian untuk mengurusi perikanan
budidaya di seluruh Indonesia. Kerja kerasnya, tentu saja bukan tanpa
tujuan. Kegiatannya yang tak jarang bermandi keringat di tengah lumpur
tambak seperti ingin dia persembahkan untuk kemajuan perikanan budidaya.
Juga, yang tak kalah penting, Slamet mengaku ingin menjalankan tanggung
jawab yang diberikan semaksimal mungkin. Sehingga pada gilirannya,
harap Slamet, jabatan yang dia emban tersebut mampu memberikan kesan dan
peninggalan yang bagus untuk generasi setelahnya. (ahm/munib)
0 komentar:
Posting Komentar