header-photo

GERPARI di Kawasan Minapolitan Banjarnegara

Pengembangan kawasan minapolitan berbasis perikanan budidaya telah berhasil meningkatkan perekonomian daerah dengan mengandalkan usaha budidaya perikanan. Salah satu kawasan minapolitan yang terbilang berhasil adalah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Keberhasilan ini ditandai dengan penghargaan Juara I Adibakti Mina Bahari 2015 Kategori Pengembangan Kawasan Minapolitan Perikanan Budidaya dan meraih juara I untuk kategori Unit Pembenihan Rakyat.
 
Diungkapkan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, usaha perikanan budidaya kabupaten ini telah berkontribusi meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan menyerap tenaga kerja. Produksi perikanan budidaya di Banjarnegara selama kurun waktu lima tahun terakhir cukup menggembirakan. Terjadi peningkatan produksi yang cukup signifikan yang mencapai hampir tiga kali lipat yaitu dari 5.393,25 ton pada 2010 menjadi 14.846,56 ton pada 2014 (data sementara).
 
Dijelaskan Slamet, komoditas budidaya air tawar yang menjadi unggulan di Banjarnegara antara lain ikan gurami, nila, lele, mas, dan patin. “Benih gurami dari Banjarnegara sudah tersebar ke berbagai daerah seperti Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Timur,” kata Slamet saat melakukan Kunjungan Kerja di Banjarnegara awal Maret ini.
 
Peningkatan produksi ini menjadi bukti bahwa dukungan pemerintah daerah sangat diperlukan dalam mengembangkan perikanan budidaya di wilayahnya. Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo yang turut serta dalam kunjungan tersebut mengatakan bahwa kawasan minapolitan perikanan budidaya yang ada di Banjarnegara akan terus dikembangkan.
 
Pihaknya telah membuat sentra-sentra perikanan berdasarkan komoditasnya. Ada sentra budidaya gurami di Rakit dan Bawang, sentra budidaya nila di Kecamatan Rakit dan juga Minapadi di beberapa kecamatan. Disamping itu, untuk mendukung permodalan, Pokdakan (Kelompok Pembudidaya Ikan) juga diikutkan dalam program Sertifikasi Hak Atas Tanah Budidaya Ikan (SeHATKAN).
 
Menurut Sutedjo, dari 300 bidang tanah yang telah disertifikat, 50 %-nya telah dapat digunakan untuk mendapatkan akses modal melalui KUR dan KKPE senilai hampir Rp 2,25 miliar. “Semua program pemerintah pusat yang tujuannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan kita dukung 100 %,” ungkap Sutedjo.
 
Efek Jangka Panjang
 
Kedepan, arah kebijakan pengembangan perikanan budidaya bukan hanya dimaksudkan untuk mencapai ketahanan pangan dan gizi, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan para pembudidaya dan keluarganya. Hal ini dikatakan Slamet, sesuai arahan dari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.
 
Menurut Slamet, konsep total aquaculture dengan mengaplikasikan teknologi di setiap level budidaya untuk meningkatkan hasil budidaya ikan harus segera diterapkan. Ia mencontohkan, dari total biaya produksi budidaya ikan, 70 - 80 %- nya adalah komponen biaya untuk pakan. Sisanya baru digunakan untuk benih, obat, alat, tenaga kerja, dan lain-lain. “Oleh karena itu kita punya program untuk menggunakan pakan dengan bahan baku lokal, sehingga keuntungan pembudidaya harus lebih dari 40 % dan biaya pakan harus ditekan sampai di bawah 60 %,” ujar Slamet optimis.
 
Gerakan Pakan Mandiri (GERPARI) merupakan program unggulan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mendorong produksi pakan ikan secara mandiri dengan memanfaatkan bahan baku pakan lokal. “Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mendorong pembentukan Kelompok Pakan Mandiri yang terpisah dari Pokdakan, dengan fungsi sebagai produsen pakan di sentra-sentra perikanan budidaya,” ungkap Slamet.
 
Terkait program ini, Direktur Sarana dan Prasarana DJPB KKP, Dwika Herdi-kiawan menyampaikan ada beberapa ka-wasan yang akan dijadikan percontohan dari GERPARI skala besar. “Termasuk didalamnya Banjarnegara untuk Jawa Tengah, Banda Aceh, Agam di Sumatera Barat, Kampar (Riau), Musi Banyuasin di Sumatera Selatan, Tasik, Ciamis, dan Bogor di Jawa Barat, Sleman dan Gunung Kidul di Jogjakarta, serta Tulung Agung di Jawa Timur dengan target kapasitas masing-masing daerah kurang lebih sebanyak 60 ton per unit mesin per bulan. Saat ini kita masih melakukan identifikasi dan verifikasi daerah mana saja yang berpotensi,” jelas Dwika
 
Mesin Pelet untuk Pakan Mandiri
 
Keseriusan pemerintah dalam menjalankan program GERPARI ditunjukkan dengan pemberian mesin pelet kepada Koperasi Serba Usaha Mina Rakit Sejahtera. Anggota koperasi ini adalah Pokdakan yang terdapat di wilayah Rakit, Wanadadi, Bawang, Mandiraja, Purwonegoro, dan baru saja dikukuhkan oleh Bupati Banjarnegara (12/3).
 
Slamet mengatakan, dengan mesin pelet berkapasitas 200 kg/jam diharapkan koperasi dapat mengelola dengan baik mulai dari mengupayakan bahan baku dan tiap-tiap kelompok akan memiliki peran berbeda. “Tiap kelompok harus handal dalam proses pemilihan bahan baku, pembuatan pakan, budidaya, dan lain-lain. Lebih bagus lagi ada kelompok khusus pakan, sehingga kedepannya akan makin banyak masyarakat yang tertarik budidaya,” tegas Slamet.
 
Ketua Koperasi terpilih, Karsono menyambut positif mesin pelet yang akan diberikan oleh pemerintah pusat KKP. Menurut Karsono, dari luas lahan 153 hektar yang dimiliki Banjarnegara, maka akan sangat besar potensi untuk mencari bahan baku sebagai bahan membuat pakan mandiri. “Kami sangat ingin diberi kepercayaan untuk mengelola mesin pelet ini dan menghasilkan pakan mandiri yang tentunya dapat menekan biaya produksi,” ujar Karsono. Dalam acara sarasehan dengan masyarakat pembudidaya di Kecamatan Rakit, Banjarnegara tersebut, Slamet juga melakukan sosialisasi GERPARI kepada para Kepala Dinas terkait di wilayah se-eks kerasidenan Banyumas yang meliputi Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, dan Kebumen.
 
Sementara itu, Bantuan Sosial Kemasyarakatan yang diberikan oleh KKP akhir November lalu kepada Panti Asuhan Aisyiyah Muhammadiyah Kec. Blambangan mulai dirasakan manfaatnya oleh pengurus pesantren. Pimpinan Muhammadiyah Cabang Blambangan, Arif Sudaryanto disela-sela panen parsial ikan gurami yang dilakukan Dirjen Perikanan Budidaya mengatakan, dari bantuan benih 7 kuintal dan pakan 21 kuintal ditargetkan dapat menghasilkan panen sampai 20 kuintal sekitar pertengahan April nanti. “Kami awasi terus budidayanya, karena hasilnya nanti akan kami gunakan untuk keperluan anak-anak di panti ini sekaligus melatih jiwa wirausaha mereka. Dan jika ini berhasil akan kami putar modalnya agar tidak minta bantuan terus,” ujar Arif optimis.
 
Selain panen gurami di Panti Asuhan Aisyiyah, Slamet juga memberikan pengarahan kepada siswa – siswi SMK Negeri 1 Bawang, Banjarnegara, melakukan penebaran benih lele dan patin di kolam percontohan SMK Negeri 1 Bawang dan juga di SMA Negeri 1 Banjarnegara. Menurut Slamet, dirinya menyambut gembira dengan adanya SMK yang mengkhususkan jurusan di bidang perikanan. “Ini artinya sektor perikanan terutama budidaya mulai dilirik dan menjanjikan dari sisi lapangan pekerjaan dan akan menjadikan mereka sebagai generasi bangsa penerus perikanan,” pungkasnya

 

http://www.trobos.com/detail-berita/2015/03/15/86/5786/gerpari-di-kawasan-minapolitan-banjarnegara

0 komentar:

Posting Komentar