header-photo

PERIKANAN : Harmoni Wisata dan Perikanan di Danau Toba


Pemerintah berencana menjadikan Danau Toba sebagai destinasi wisata unggulan. Di sisi lain, danau terbesar di Indonesia ini juga tempat berproduksi nila, komoditas ekspor perikanan. Bagaimana jalan tengahnya?
Danau Toba di Sumatera Utara terhampar di tujuh kabupaten, yaitu Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Samosir, Karo, Dairi, dan Humbang Hasundutan.  Di samping kondang sebagai tempat wisata yang memukau dengan pemandangan alamnya, perairan danau itu juga dimanfaatkan perusahaan dan pembudidaya ikan untuk memproduksi nila (tilapia).
Pemerintah memberi lampu hijau untuk memaksimalkan pengelolaan Danau Toba. Sesuai Perpres 81/2014, usaha Keramba Jaring Apung (KJA) diperbolehkan di outlet perairan danau di Kabupaten Toba Samosir. Sedangkan di kabupaten lain yang sudah berkembang usaha KJA harus dilakukan pengendalian KJA. Usaha KJA masyarakat dilarang di area pesisir danau sampai kedalaman 30 m, di atas kedalaman itu dikendalikan. Untuk KJA perusahaan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengusulkan dibatasi di perairan dengan kedalaman lebih dari 100 m dan tidak boleh mencemari lingkungan.
Saat ini jumlah KJA di Danau Toba, menurut data KKP,  berkisar 23 ribu unit, dan ada sekitar 7.000 unit di antaranya akan diangkat. Menurunkan atau mengurangi unit KJA tentunya akan berimbas berkurangnya produksi ikan di sana. Sesuai rekomendasi Badan Litbang KKP, daya dukung perairan Danau Toba sekitar 50 ribu ton ikan per tahun. Sedangkan produksi usaha KJA pada 2015 sekitar 90 ribu ton. Itu artinya, produksi harus dikurangi 40 ribu ton per tahun. Bila harga nila di tingkat pembudidaya Rp23.500/kg, maka jumlah pendapatan masyarakat pembudidaya ikan KJA yang akan hilang berkisar Rp940 miliar per tahun. Ini jelas kehilangan yang sangat signifikan dan mempengaruhi hajat hidup banyak masyarakat.
Selain pembudidaya rakyat, di Danau Toba juga beroperasi dua perusahaan dan eksportir nila, yakni PT Aquafarm Nusantara dari Swiss yang lebih dulu datang  ke Toba dan PT Suri Tani Pemuka (STP), anak usaha Japfa dari Indonesia. Kedua perusahaan terintegrasi tersebut mengekspor fillet nila ke pasar Amerika Serikat.
Berdasarkan data dari National Marine Fisheries Service, impor komoditas filet nila beku mengalami peningkatan yang signifikan mulai 2002 hingga 2016. Indonesia pemasok nila terbesar kedua di AS setelah Tiongkok. Tapi dalam bentuk fillet beku, tonase Indonesia mengungguli Tongkok dan kualitasnya termasuk premium. Di pasar AS itu, STP mengorbitkan brand Toba Tilapia untuk produk fillet bekunya. Di dalam negeri fillet ini sudah digunakan oleh salah satu jaringan restoran cepat saji terbesar di dunia untuk menggantikan produk impor.
Memenuhi Standar Nasional dan Internasional
Belakangan budidaya ikan di KJA Danau Toba menjadi sorotan setelah terbit Perpres 49 Tahun 2016 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba. Terbitnya Perpres tersebut bisa berdampak pada keberadaan usaha budidaya ikan menggunakan KJA yang sudah banyak tumbuh di sana.
Melalui Rachmat Indrajaya, Director External Relation Japfa, STP menyatakan menyambut baik rencana pemerintah menjadikan Danau Toba destinasi wisata unggulan dan berharap pembangunan infrastruktur di sana akan semakin baik. Demikian pula upaya-upaya terhadap kelestarian lingkungan hidup semakin meningkat. Perusahaan ini meyakini, budidaya perikanan yang ramah lingkungan akan dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan pariwisata Danau Toba, dan STP siap untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung keberhasilan program pariwisata pemerintah.

Sumber: AGRINA

Menyibak Perikanan di Negeri Dieng


Menekan urbanisasi, usaha perikanan dibangun melalui generasi muda.
Melimpah dengan sumber air membuat wilayah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, subur untuk kegiatan agribisnis perikanan. Perputaran uang dari sektor perikanan ini mencapai Rp700 miliar setahun.
Dialiri Sungai Serayu, Merawu, Pekancangan, Berukah, dan Sakti, dengan irigasi teknis yang tidak pernah putus saat musim kemarau, membuat usaha perikanan sangat bergairah. Di wilayah yang terkenal dengan wisata dataran tinggi Dieng tersebut terdapat sekitar 430 ha kolam budidaya ikan, 23 ha keramba jaring apung (KJA), dan 75 ha lahan minapadi yang dikelola. Aktivitas ekonomi itu dikelola 20 ribu rumah tangga pembudidaya dari sekitar satu juta rumah tangga di Banjarnegara. Produksi perikanan budidaya mencapai sekitar 10 ribu ton pada 2013. Tahun ini produksi perikanan diharapkan mencapai 13 ribu ton.  
Raja Purbawa
Menurut Sutedjo Slamet Utomo, Bupati Bajarnegara, terdapat sentra budidaya ikan yang terkenal dengan nama Raja Purbawa, akronim dari lima Kecamatan Rakit, Mandiraja, Purwanegara, Bawang, dan Wanadadi. Komoditas perikanan yang marak dibudidayakan adalah gurami, nila, nilem, patin, mas, bawal, lele, dan tawes. “Produk unggulan kita adalah gurami dan nila,” ujar Tomo, sapaannya, saat menerima kehadiran media pada acara Press Tour Ditjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (22/2).   
Ikan yang dibudidaya mulai dari telur, benih, hingga ukuran konsumsi. Pada 2013, produksi ikan konsumsi mencapai hampir 10 ribu ton. Rinciannya, ikan mas sebesar 481 ton, patin 233 ton, lele 2.228 ton, nila 2.247 ton, gurami 2.937 ton, dan ikan lainnya seperti bawal, nilem, tawes mencapai 1.859 ton. Sementara, imbuh Totok Setya Winarna, Kepala Bidang Perikanan, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Peternakan Kab. Banjarnegara, produksi benih ikan mencapai 961 juta ekor/tahun.
Produksi utama perikanan Banjarnegara memang berupa benih. Nilai perputaran uang dari usaha pembenihan ikan sebanyak Rp500 miliar/tahun, sedangkan dari pembesaran ikan sekitar Rp200 milar/tahun. Benih ikan tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga ke wilayah lain di Jateng, Jatim, Sumatera, dan Kalimantan. Sedangkan gurami ukuran konsumsi dipasarkan ke Jakarta, Bandung, dan Semarang.
Selain ikan konsumsi, pembudidaya di Banjarnegara menghasilkan ikan hias membidik pasar ke Jakarta, Bandung dan Tasikmalaya. ”Ada kawasan pengembangan ikan hias di Kec. Kali Bening dan Kec. Bawang, jenisnya koi, komet, dan plati,” urai Tomo.
Untuk pembangunan perikanan budidaya, pemda Banjarnegara mengucurkan dana sebesar Rp1,3 miliar pada 2014. “Kita akan gunakan anggaran 60% untuk kawasan minapolitan, 40% untuk interland. Interland itu penyangga dari 14 kecamatan,” Totok menambahkan. Pembangunan dilakukan secara fisik berupa pembuatan irigasi untuk memperlancar pasokan air ke kolam budidaya, dan nonfisik berupa pelatihan cara pembenihan dan budidaya ikan yang baik.
Generasi Muda
Generasi muda, diakui Tomo, sangat berperan dalam pembangunan industri perikanan pada masa mendatang. Sebab itu, sambung dia, agar generasi muda mau menggeluti sektor perikanan, dibukalah jurusan perikanan di SMK Negeri 1 Bawang. “Siswa berwirausaha di lingkungan sekolah, mereka bisa langsung praktik dan mencetak uang,” cetusnya.
Antusiasme siswa terhadap sektor perikanan juga cukup tinggi. Saat dibangun pada 2012, jumlah siswa yang terdaftar mencapai 30 orang. “Dua tahun terakhir ini naik signifikan, tahun kedua ini sudah 60 siswa,” papar bupati yang menggaungkan slogan “Mawar Biru” alias Mangan Wareg, Bisa Turu (makan kenyang, bisa tidur).
Guna mendukung wirausaha muda tersebut, Tomo mencanangkan program Gemarikan atau gerakan memasyarakatkan makan ikan. Pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei, mendatang pemerintah dan masyarakat dianjurkan membeli produk perikanan yang dihasilkan para siswa SMK. “Anak-anak (SMK) budidaya ikan lele yang dipanen bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional,” imbuh pria kelahiran Banjarnegara, 14 Februari 1945 ini.       
Selain itu, pemerintah Banjarnegara juga memperkenalkan sistem terpalisasi kepada warga desa, yaitu usaha budidaya perikanan menggunakan terpal berukuran 2 m x 3 m. Totok menggambarkan, pembudidaya akan memperoleh keuntungan bersih sebesar Rp200 ribu/bulan dengan membenihkan lele di kolam terpal. “Dan di Banjarnegara sudah berkembang puluhan ribu terpal. Sasaran kita kepada anak-anak muda sehingga tidak terjadi urbanisasi. Sasaran generasi muda adalah terpalisasi, usaha pemula dan yang sudah maju dengan kolam permanen,” sambungnya.
Selain itu, pembudidaya pemula juga akan diperkenalkan teknologi pembesaran ikan yang lebih mudah dibandingkan pembenihan ikan. “Jangan sampai pembudidaya gagal, nggak mau coba lagi. Kami harap, mereka mencoba, dan bersemangat,” papar Bupati. Semoga!
Windi Listianingsih
01 April 2014
Sumber: Agrina